Teh hangat,
leker coklat, nasi putih, dan ikan gurameh kuah kuning semuanya pasti
dihidangkan oleh Ibu waktu saya tiba di rumah selepas perjalanan 2 jam dari Jogja
dengan kendaraan bermotor. Bukan hanya makanan, teriakan dan pelukan adik-adik
saya yang masih SD pun membuat saya sangat menikmati momen ini. Pulang kampung,
kembali ke rumah. Saya pernah berpikir, selepas SMA saya tidak akan pernah lagi
benar-benar tinggal di rumah. Rumah hanya akan menjadi tempat singgah dan
hiburan di tengah kesibukan kuliah.
Kamis, 14 Maret 2013
Selasa, 25 Desember 2012
Kamu Senang, Saya Nimbrung
Saya lahir di
Jakarta, lalu sebelum masuk TK saya pernah tinggal di Bangka Belitung. Saya
tidak pernah ingat bagaimana saya, ayah, dan ibu berangkat ke Bangka Belitung.
Saya cuman ingat beberapa hal ketika
saya tinggal di sana dan perjalanan ketika saya kembali ke Jakarta.
Bangka Belitung itu tempat yang orang-orangnya
beragam. Mungkin karena terletak di jalur perdagangan masa Nusantara. Ada orang
Arab, Cina, Melayu, dan Jawa. Di tempat tinggal saya dulu, di Sungai Liat saya
punya ibu kontrakan yang saya panggil Mbok De Pon. Dia itu perempuan paruh baya
berbadan gemuk, berkulit agak gelap dan rambutnya suka diikat konde. Dalam
ingatan saya Mbok De Pon suka pakai rok di bawah lutut, dan pakai kaos berkerah.
Yah, seperti itulah pokoknya. Mbok De
Pon punya cucu perempuan, waktu itu masih kelas 6 SD, namanya Kak Rita. Terus, saya punya guru ngaji orang Arab
asli namanya Bu Luli. Suami Bu Luli dekat dengan ayah karena suaminya jualan
karpet dan ayah saya suka beli karpet. Dulu kata ibu, Bu Luli suka jengkel
karena saya saking bebalnya buat diajari ngaji. Disuruh menunjuk huruf malah
menunjuk ke bingkai halaman turutan.
Minggu, 02 Desember 2012
Kepada EKSPRESImen
“Dengan kekuatan Persma, EKSPRESImen akan
menghukummu!” ujar laki-laki yang mengenakan jubah hitam dengan sablonan
bertuliskan “EKSPRESI, Refleksi Pemikiran Intelektual.”
Badannya gembrot tapi dia tinggi,
jadi gembrotnya ketutupan. Berkacamata, tapi seringnya nggak pake. Kulit hitam
legam, bahkan mengalahkan Mbak Ratih Fernandez. Saat launching majalah
kemarin, dia berperan sebagai EKSPRESImen. Suka niruin gayanya salah satu
pemain Srimulat dengan bilang, “Ada apa ini? Ada apa ini?” Terus kemarin karna
dia, saya terinspirasi untuk bikin catatan. Jadi, siapa coba? Siapa hayo?
Jumat, 16 November 2012
Masukin Aku ke Koran Dong...
Ketika KKL (Kuliah Kerja Lapangan) pertama, saya berkunjung
ke Candi Brahu. Di sana, yah seperti candi pada umumnya. Sebenarnya saya tidak
ingin menceritakan tentang Candi Brahu di sini, karena terlalu membosankan. Jadi,
saya ceritakan saja kejadian di Candi Brahu.
Cerita ini bermula ketika kawan saya, Umar berbicara kepada
seorang bocah yang usianya kira-kira 10 tahun. Anak itu merupakan bagian dari
rombongan TPQ yang saya juga tidak tahu namanya. “Dek, naik ke atas sana!
Liatin, di atas ada cekungan nggak,” kata Umar dengan bahasa Indonesianya yang
bercampur dengan logat ngapaknya dari Purwokerto. Sebagai mahasiswa yang baik
dan budiman, serta patuh pada aturan yang ada, ketika mengatahui hai itu saya pun
mencegah anak itu naik ke atas candi karena memang ada
larangan untuk naik. Berhubung pesona saya yang memang memancar ke mana-mana,
ketika saya mengingatkan anak-anak itu pun kawan saya yang lain ikut-ikutan
mengingatkan mereka tidak untuk naik ke atas candi.
Langganan:
Postingan (Atom)