Tampilkan postingan dengan label latihan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label latihan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Mei 2013

Daya dan Iba


Saya sedang berkendara menggunakan sepeda motor yang diberikan oleh ayah saya. Bukan perjalanan yang jauh, hanya perjalanan dari kosan saya di samirono menuju kampus saya di Fakultas Ilmu Sosial.  Mungkin belum sampai setengah perjalanan, setelah menyeberang jalan, di perempatan lapangan futsal, saya mengamati sesuatu yang bagi saya menyentuh.  Kalian pasti tahu trotoar di daerah stadion FIK hanya ada di sebelah timur. Bukan, saya bukan hendak membincang tentang trotoar tapi membincang apa yang terjadi di trotoar.
Di trotoar yang sempit itu, ada penjual beras kencur yang saya pikir nasibnya tidak masuk dalam ketegori kasihan bagi saya, dan ada penjual-penjual lain yang belum cukup menyentuh. Yang menarik bagi saya adalah kehadiran anak kecil yang mungkin usia 5 tahun ke atas. Anak kecil itu hanya mengenakan kaos singlet, bercelana biru, dan menggendong sebuah tas. Saya lupa anak laki-laki itu bersepatu atau tidak. Saya melihatnya seperti seorang murid TK namun berada tidak pada waktu dan tempat yang tepat.

Jumat, 09 November 2012

Kenangan SD yang Belum Terlupakan


 Ini cerita 12 tahun yang lalu. Waktu itu umur saya masih enam tahun dan saya duduk di kelas 1 SDN 01 Pagi Cengkareng. Saya  lupa waktu itu bulan apa. Mungkin, karena saya belum benar-benar mengrti apa fungsi penanggalan. Yang jelas, siang itu di sekolah panas sekali. Di siang yang panas itu, saya duduk sendiri di kursi teras kelas sambil makan roti sarang burung (sekarang sari roti) rasa srikaya. Dengan tampang tanpa dosa seperti di foto profil FB saya, saya menunggu jemputan dari ayah saya, sang pengendara vespa.

Jemputan tak kunjung datang, saya cuma makan roti sambil melototin anak-anak kelas 6 yang sedang antre fotokopi di koperasi sekolah di seberang lapangan. Bel tanda usai istirahat berbunyi, sekarang sekolah terasa sepi. Di tengah suasana sepi dan rasa bosan yang melanda saya itulah, hal yang saya nggak pernah lupa sampai saya sudah gede dan jadi kurang ajar begini.

Tiba-tiba saya mendengar suara tangisan. Eit! Ini bukan cerita hantu kok. Suara tangisan itu dari anak laki-laki berbadan gemuk. Dia nangis sambil megangin celana merahnya di depan kamar mandi sekolah diiringi rengekan, “Mama, nggak bisa cebok, hu… hu… hu…”

Selasa, 09 Oktober 2012

Baik Patah Hati maupun Taruhan, Keduanya Membutuhkan Sabar


Selasa malam di EKSPRESI sedang ramai. Di ruang baca sedang ada presentasi tema buku, di ruang tengah ada beberapa gelintir manusia yang sedang ngotak-atik komputer inventaris, dan di ruang tamu, ada saya, Anggun, Nia, Awal, Sofwan, Oktandi, Mbak Sari, dan Mbak Inas serta (mungkin) beberapa orang lagi yang tidak bisa saya sebutkan  sedang menertawakan nasib Ebma yang memiliki status baru, JOMBLO. Ha ha. Memang begitu nasib anak-anak EKSPRESI yang punya status baru. Dihina. Kemarin, Mas Pendi sempat diledek dengan lagu Jatinangor karna habis putus. Dan, sekarang giliran Ebma, puk puk puk ya Eb.  Tapi tenang Eb, ada hinaan abadi, Mas Jaka, ha ha (pis masnya :P)
Mbak Inas yang sebelumnya hampir mati gila karna mengerjakan proyek majalah seperti mendapat hiburan gratis dengan meng’ece’ Ebma habis-habisan. Ebma si bahan hinaan pun cuma bisa pasrah menerima nasib buruk. Akhirnya, setelah Mbak Inas pergi, dia meminjam laptop Awal untuk memutar lagu. Lagu patah hati yang dinyanyikan oleh padi, entah apa judulnya. Saya lupa, bodoh. Dengan masih mengenakan jaket salah model yang dibelikan (mungkin sudah) mantannya, Ebma menghayati lagu sambil menerima saran dari kawan-kawannya missal, “Dengerin lagu Setangah Hati aja, sini tak cariin (intinya tadi dia bilang begini, nggak tahu persisnya),” kata Awal, sok baik. Ada juga saran seperti ini, “Sini Eb, jaketnya buat aku aja,” kata Mbak Inas gembul (ups). *itu mah Mba Inas aja yang ngincar jaketnya. Sabar Eb, sebenarnya kita peduli kok, walalupun cara menunjukkan rasa pedulinya hasyu sekali.

Sabtu, 06 Oktober 2012

Tulis Saja


Saya mencoba untuk memaksakan diri menulis. Menulis, apapun itu. Tulis saja, yang penting nulis. Entah mau jadi sampah atau… apalah. Jurusan saya, Ilmu Sejarah dan cita-cita saya sebgai jurnalis membuat saya mengharuskan diri untuk berlatih mulis. Walaupun yang ditulis ya… seperti yang anda baca sekarang ini.

Minggu, 03 Juni 2012

Makanan jadi Barang Langka di Siang Ramadhan


Sebulan lagi ramadhan datang. Sudah mulai banyak iklan-iklan sirup yang menawarkan kesegarannya, bermunculan di televisi. Banyak juga acara pengajian yang digelar menjelang bulan ramadhan. Di radio, ceramah mengenai persiapan bulan ramadhan juga sering kali diperdengarkan.  Bulan ramadhan merupakan bulan yang dianggap suci oleh umat muslim dan tentunya bulan ini seringkali ditunggu-tunggu.
Sewaktu kecil, aku sangat senang ketika bulan ramadhan datang. Saat umurku delapan tahun, aku melewatkan bulan ramadhan di rumah nenek. Suasana sahur dan buka puasa di sana, sangat ramai dan riuh karena ada banyak sepupuku. Setelah buka puasa, nenek pasti mengajari kami untuk mengaji, kemudian berangkat sholat tarawih di masjid, dan kegiatan peribadatan lainnya. Inilah ramadhan yang paling kurindukan bersama nenek dan sepupu-sepupuku.
Dulu saat aku masih SMA, sebelum aku kuliah di jogja, aku melewatkan bulan ramadhan bersama ibu dan adik-adikku. Ibu tidak terlalu suka dengan kolak karena dia pasti akan sakit perut ketika makan santan, jadilah menu berbuka tidak pernah ada kolak. Adik-adikku yang tidak puasa tapi mengaku puasa, pasti ikut-ikutan berbuka puasa dan membuat segalanya ramai, entah dengan tangisan, atau berebut makanan.