Tampilkan postingan dengan label ceritera. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ceritera. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 Juni 2013

Kain Putih Ibu

Sepulang sekolah, setelah mencuci muka, kaki, dan tangan, serta berganti baju Nina pergi ke ruang kerja ibunya. Dia senang sekali memerhatikan ibunya bekerja. Ibu Nina adalah seorang penjahit. Setiap hari dia bekerja dengan mesin jahitnya membuat pakaian atau membetulkan pakaian yang rusak.
Nina ingin seperti ibunya, bisa menjahit dan membuat pakaian menggunakan mesin jahit. Tapi, ibunya tidak mengizinkannya menggunakan mesin jahit karena berbahaya jika anak-anak yang menggunakannya. Nina merengek pada ibunya untuk minta diajari. Tapi, ibu Nina tetap tidak mau mengajari Nina.
Beberapa hari kemudian, ketika Nina pulang sekolah dan melihat ke ruang kerja ibunya, Nina tidak menemukan ibunya di sana. Sepertinya ibu Nina sedang pergi dan Nina kini hanya sendirian di rumah. Nina pun menunggu ibunya sambil duduk di kursi depan mesin jahit. Tiba-tiba, Nina mendapat ide untuk belajar menggunakan mesin jahit sendirian saja.

Kamis, 23 Mei 2013

Ketemu Berhala


Saya sedang suka nonton konser. Beberapa waktu yang lalu, tepatnya bulan April, salah satu penyayi favorit saya, Maliq & D’essentials manggung di GOR UNY.  Satu bulan sebelumnya, saya pun langsung mencari calo, eh bagian tiketnya supaya bisa dipastikan kalau saya bisa nonton.

Kemudian, beberapa hari berikutnya kawan saya, Sofwan bilang kalau Mocca, penyanyi favorit saya lainnya juga akan konser bulan Mei. Tanpa perlu berpikir kalau kantong saya lagi meronta-ronta saya langsung bilang ke Sofwan kalau saya nitip tiket. Dan, yes! Saya dapat!

Jumat, 05 April 2013

Leaflet Pertama Saya


Beberapa minggu yang lalu,  saya mnedapt tugas untuk membuat leaflet di mata kuliah Sejarah Kepariwisataan. Leaflet, berarti saya harus nglaeot. Saya bukan orang yang bisa nglaeot atau orang yang kreatif. Akhirnya, saya pun nekat nglaeot dan ini lah hasil laeotan saya yang pertama.

Halaman depan leaflet.

Selasa, 25 Desember 2012

Kamu Senang, Saya Nimbrung


Saya lahir di Jakarta, lalu sebelum masuk TK saya pernah tinggal di Bangka Belitung. Saya tidak pernah ingat bagaimana saya, ayah, dan ibu berangkat ke Bangka Belitung. Saya cuman ingat beberapa hal  ketika saya tinggal di sana dan perjalanan ketika saya kembali ke Jakarta.

Bangka Belitung itu tempat yang orang-orangnya beragam. Mungkin karena terletak di jalur perdagangan masa Nusantara. Ada orang Arab, Cina, Melayu, dan Jawa. Di tempat tinggal saya dulu, di Sungai Liat saya punya ibu kontrakan yang saya panggil Mbok De Pon. Dia itu perempuan paruh baya berbadan gemuk, berkulit agak gelap dan rambutnya suka diikat konde. Dalam ingatan saya Mbok De Pon suka pakai rok di bawah lutut, dan pakai kaos berkerah. Yah, seperti itulah pokoknya.  Mbok De Pon punya cucu perempuan, waktu itu masih kelas 6 SD, namanya  Kak Rita. Terus, saya punya guru ngaji orang Arab asli namanya Bu Luli. Suami Bu Luli dekat dengan ayah karena suaminya jualan karpet dan ayah saya suka beli karpet. Dulu kata ibu, Bu Luli suka jengkel karena saya saking bebalnya buat diajari ngaji. Disuruh menunjuk huruf malah menunjuk ke bingkai halaman turutan.

Minggu, 02 Desember 2012

Kepada EKSPRESImen

“Dengan kekuatan Persma, EKSPRESImen akan menghukummu!” ujar laki-laki yang mengenakan jubah hitam dengan sablonan bertuliskan “EKSPRESI, Refleksi Pemikiran Intelektual.”

Badannya gembrot tapi dia tinggi, jadi gembrotnya ketutupan. Berkacamata, tapi seringnya nggak pake. Kulit hitam legam, bahkan mengalahkan Mbak Ratih Fernandez. Saat launching majalah kemarin, dia berperan sebagai EKSPRESImen. Suka niruin gayanya salah satu pemain Srimulat dengan bilang, “Ada apa ini? Ada apa ini?” Terus kemarin karna dia, saya terinspirasi untuk bikin catatan. Jadi, siapa coba? Siapa hayo?

Jumat, 16 November 2012

Masukin Aku ke Koran Dong...


Ketika KKL (Kuliah Kerja Lapangan) pertama, saya berkunjung ke Candi Brahu. Di sana, yah seperti candi pada umumnya. Sebenarnya saya tidak ingin menceritakan tentang Candi Brahu di sini, karena terlalu membosankan. Jadi, saya ceritakan saja kejadian di Candi Brahu.

Cerita ini bermula ketika kawan saya, Umar berbicara kepada seorang bocah yang usianya kira-kira 10 tahun. Anak itu merupakan bagian dari rombongan TPQ yang saya juga tidak tahu namanya. “Dek, naik ke atas sana! Liatin, di atas ada cekungan nggak,” kata Umar dengan bahasa Indonesianya yang bercampur dengan logat ngapaknya dari Purwokerto. Sebagai mahasiswa yang baik dan budiman, serta patuh pada aturan yang ada, ketika mengatahui hai itu saya pun mencegah anak itu naik ke atas candi karena memang ada larangan untuk naik. Berhubung pesona saya yang memang memancar ke mana-mana, ketika saya mengingatkan anak-anak itu pun kawan saya yang lain ikut-ikutan mengingatkan mereka tidak untuk naik ke atas candi.

Senin, 08 Oktober 2012

Tas Belanja Ramah LIngkungan


Semalam, saya pergi ke Mirota Kampus untuk membeli shampo dan yang lainnya. Setelah mencomot teh, kopi, dan mie  di deretan rak bahan makanan, saya langsung meluncur ke kasir. Untungnya, antrean di meja kasir sedang sepi karena saat itu magrib. Ibu-ibu di depan dengan keranjang penuh membeli banyak sekali mie instan. Setelah mbak kasir itu selesai dengan pembeli sebelumnya, kemudian, akhirnya ibu-ibu di depan saya itu dilayani si mbak kasir. Si mbak kasir mengambil tas kecil yang  mungkin bisa dibilang kaya dompet di keranjang belanjaan ibu-ibu itu, dan seenak jidat membukanya. Saya pikir itu dompet ibunya, tapi ibu itu juga santai aja tuh. Ternyata, itu tas belanjaan, setelah mencari di Google dengan memasukkan kalimat seperti judul tulisan yang tengah anda baca ini, saya menemukan tas serupa, seperti ini.


Inilah tas belanja yang ramah lingkungan

Kemas Media


Sabtu-Minggu lalu, saya pergi ke Pantai Parangkusumo untuk Kemas Media. Tahun lalu, saya pergi sebagai peserta, tapi kali ini saya pergi sebagai panitia. Tapi, kawan-kawan panita sendiri yang dating Cuma beberapa gelintir saja. Tapi semua tetap berjalan dengan lancer kok.
Di Kemas Media, saya lihat kawan-kawan anggota baru berusaha membuat bulletin mereka dalam satu hari. Melihat mereka lembur, saya jadi teringat ketika ospek. Kawan-kawan lembur dan hanya tidur beberapa jam untuk mengerjakan bulletin EXPEDISI edisi khusus Ospek. Tapi, saya tentu tidak harus lembur seperti mereka. Ketika pekerjaan saya saya sebagai sie konsumsi selesai maka saya akan tidur.
Pginya, semua bulletin jadi dan dicetak. Syukurlah semua terbit tepat waktu. Dulu, ketika saya jadi peserta Kemas Media, kelompok sayalah yang  selesai pertama. Dan ketika itu hal yang paling ditakutkan adalah evaluasi bulletin. Tentunya karna masih sangat baru dlam menulis berita kami memiliki banyak kesalahan dalam menulis berita. Evaluasi saat itu begitu mengerikan.  Tapi, kali ini saya yang diberi kesempatan untuk mengevaluasi bulletin mereka. Saya kenal dengan salah satu anggota kelompok itu, Risfat, teman saya satu prodi. Maaf ya, kalau cara menyampaikan evaluasi terkesan galak, tapi itu terjadi begitu saja dan memang bulletin kalian memiliki banyak kesalahan. Selamat belajar, selamat datang. Ingat, ini masih tahap awal kawan-kawan anggota baru.

Kamis, 04 Oktober 2012

Penyakit Menurun


Malam-malam membuka blog saya yang sudah tiga bulan tidak saya sambangi. Sejarah pembuatan blog ini saja karena mendapat taruhan dari senior saya di UKM Prima dan Nisrina, dan satu lagi korban taruhan mereka, Lynda. Kapan-kapan saja cerita tentang ini.
Masalah klasik kalau sudah lama tidak membuka sesuatu yang mempunyai kunci dan kuncinya disimpan di pikiran kita, yaitu lupa kuncinya. Saya mencoba dengan password adalan saya. Nama binatang yang biasanya untuk makian. Eh, ternyata gagal. Untungnya Google punya bantuna keamanan (yah, pasti semua tahu kalau Blogspot adalah produk Google).