Minggu, 29 September 2024

Just an update...

Baru sadar kalau blog ini bisa dibuka kembali, semata karena iseng searching blog lucu yang suka kubaca waktu kuliah.

Kukira tadinya aku lupa password blog ini. Syukurlah bisa dibuka sebab akhir-akhir ini banyak password yang terlupa.

Apakah aku harus ngeblog lagi? If so, I think it shouldn't be something serious, just simply random things without the need to make anything deep.

(Capek banget nanti idupku, kerja serius, nulis diari serius, ngeblog masak harus serius juga).

Baru-baru ini aku juga sedang senang membaca blog pencinta diving gara-gara penasaran rajungan, kepiting merah, dan kepiting bakau bedanya apa? Lalu fell into rabbit holes baca soal ekosistemnya, apakah bisa aku menyelam sambil nangkap kepiting, lalu ke makhluk laut lain (yang boleh dimakan aja, nggak usah cari masalah), lalu teringat SpongeBob. Random abis.

Lalu tiba-tiba ingin solo traveling ke Sulawesi, Maluku, atau Nusa Tenggara demi makan seafood. Hahaha


Minggu, 23 November 2014

Suntik Cacar

Pagi itu Dina, memasuki hari pertamanya sebagai siswa kelas II SD. Dina berangkat sekolah lebih awal dan lebih bersemangat. Hari-hari pertama di kelas II SD sangat menyenangkan. Pak Hasan, wali kelas Dina yang baru, sangat lucu. Beliau suka bercerita di depan kelas dan membuat suasana belajar di kelas jadi menyenangkan. Pak Hasan juga suka membuat istilah-istilah lucu, seperti “saipul” kependekan dari “selesai pulang”. Jadi kalau murid-murid sudah selesai mengerjakan soal, maka boleh pulang. Dina sangat menikmati hari-harinya di kelas II SD.
Pada hari Rabu sebelum bel istirahat berbunyi Bu Rima, Kepala Sekolah, datang mengunjungi kelas-kelas. Bu rima memberi tahu kalau besok akan datang petugas kesehatan untuk memberi vaksin cacar. Bu Rima menjelaskan kalau vaksin cacar sangat penting agar kita tetap sehat dan tidak terkena virus cacar. Seluruh kelas jadi ramai mendengar berita itu. Ada yang merasa ngeri karena takut disuntik, ada yang menakut-nakuti temannya, ada juga yang berani dan merasa tidak takut sama sekali.

Sabtu, 22 Maret 2014

Cinta dalam Sangkar

Burung camar, tinggi melayang
Bersahutan, di balik awan
Membawa angan-anganku jauh meniti buih
Lalu hilang larut di lautan

Setelah selesai mengerjakan buku dan LPJ buku, saya akhirnya bisa pulang kampung dan refreshing, bertemu adik-adik saya yang lucu. Waktu itu, kiranya hari Sabtu, ayah berencana beli durian di Kaligesing, soalnya air liur orang-orang di rumah sudah pada encer ketika mencium bau durian. Ketika ayah mau berangkat, Yusuf, adik saya paling kecil, sudah pulang sekolah. Jadilah adik saya itu diajak jalan-jalan.

Kalau di rumah, saya sering bangun pagi-pagi dan tidur siang. Jadi, ceritanya waktu saya bangun tidur pukul 3 sore, saya tidak mendapati adik saya nangkring di ruang tengah. Biasanya, dia nonton Bima Sakti di ANTV dan ketika saya bangun dia akan merampok laptop agar bisa main game. Atau biasanya juga, dia sudah sepedaan bersama teman-temannya dan akan pulang kalau matahari sudah jalan ke Eropa. Tidak hanya Yusuf, adik saya yang pertama, Dina, juga tidak ada. Barangkali dia main atau les. Ibu saya malah gantian yang tidur siang begitu saya bangun. Rumah sepi seperti goa. Saya pun sedirian sampai akhirnya ayah dan adik pulang membawa apa yang mereka cari. Dan, seekor burung.

Rabu, 20 November 2013

Merenungi 20 November

Waktu saya kelas 3 SD saya pernah merasa sangat malas untuk berangkat sekolah. Berangkat sekolah menjadi semacam mimpi buruk yang hadir tanpa mata perlu terpejam. Ya, saya pernah mengalami masa di mana saya sangat benci berangkat sekolah, perjalanan dari rumah ke sekolah rasanya seperti melewati jembatan Shirotol mustaqim, kepeleset sedikit saja langsung apes yang saya terima. Penyebab dari takutnya saya berangkat ke sekolah karena di sana saya sering mengalami hal buruk, seperti dikatain atau pensil diambil pas jam istirahat. Gara-gara kejahilan teman sekelas saya itu ujung-ujungnya saya jadi kayak kebo yang cuma bisa melongo pas pelajaran karna nggak bisa nulis. Yah, mau gimana lagi? Pensil saya satu-satunya sudah diambil. Lain hari, mengantisipasi itu saya bawa dua pensil, yang satu saya taruh di sela-sela buku, yang lain saya taruh di kotak pensil. Saat jam istirahat berakhir, saya sudah tenang-tenang saja karena yakin trik saya akan berhasil. Namun, rupanya pensil saya dua-duanya diambil juga. Saya pun mewujud kebo lagi, melongo saat pelajaran berlangsung.  Akhirnya, saya tidak pernah lagi meninggalkan pensil saya di kelas dan saya sakuin terus.
Tak hanya itu, saya juga pernah dianggurin oleh teman sekelas. Seharian penuh saya di sekolah tanpa teman yang kemudian membuat saya terlihat seperti alien dari planet zog. Kebetulan dari SD saya sudah punya penyakit mag. Dan penyakit inilah penolong saya, karna seringkali saya jadikan kambing hitam untuk tidak berangkat sekolah. Tak hanya dari teman sekelas, saya juga pernah sebel setengah mati dengan guru Pendidikan Agama Islam (PAI) saya. Guru PAI saya ini pernah bicara secara frontal di kelas kalau ibu saya sombong. Katanya setiap hari kalau menjemput saya ibu tidak pernah menyapa si ibu guru PAI itu. Saya hanya diam di kelas, bete? Iyalah, jelas. Orang sampai di rumah saya nangis diam-diam di ruang tengah sambil nyetel TV keras-keras supaya ibu di dapur tidak mendengar suara saya mewek. Saking sebelnya saya tulis di buku mapelnya PAI dengan huruf P diganti T. Sampai sekarang, saya nggak ada suka-sukanya sama pelajaran agama.

Selasa, 23 Juli 2013

Hak yang Melanggar Hak

Beberapa waktu yang lalu saya mengikuti diskusi rutin Gender Institute dengan tema “Feminisme Liberal”. Feminisme yang percaya bahwa perempuan dapat menaikkan posisi mereka dalam keluarga dan masyarakat melalui kombinasi antara inisiatif dan prestasi individu. Makanya, mereka memperjuangkan hak perempuan untuk mendapatkan pendidikan yang setara. Selain di bidang pendidikan, feminisme liberal memperjuangkan hak perempuan untuk  mendapatkan kelayakan di tempat kerja, hak pilih, juga hak atas tubuhnya.
Saya bukan seorang feminis, saya hanya sedikit belajar teori feminis dan saya sepakat kalau laki-laki dan perempuan mampu setara, bukan sama. Setara yang berarti perempuan memiliki hak untuk mengembangkan potensi diri sebagai perempuan. Ada hal lain lagi yang saya sepakati dari perjuangan feminisme, yakni hak perempuan atas tubuhnya. Perempuan berhak mengatur tubuhnya sendiri tanpa ada tekanan dari pihak lain, misalnya kewajiban untuk menyunat klitoris perempuan di Afrika, RUU Pornografi yang akhirnya menjadikan perempuan sebagai kriminal, atau Perda Syariat yang melarang perempuan duduk ngangkang saat naik motor. Dua hal terakhir kemudian malah membuat perempuan menjadi kambing hitam saat terjadi pelecehan. Saya pikir cara berpenampilan merupakan kebebasan dan cara manusia, baik laki-laki maupun perempuan untuk  mengekspresikan dirinya, jadi kalau ada yang menjadikan penampilan sebagai kambing hitam dari sebuah tindakan kriminal saya tidak sepakat. Namun, ada juga hal yang tidak saya sepakati dalam perjuangan feminisme, yakni hak untuk aborsi. Di Amerika Serikat, hak untuk aborsi diperjuangkan dengan mempertahankan hukum yang memberikan hak untuk aborsi secara legal (Pasal VII Civil Right Act).

Selasa, 11 Juni 2013

Kain Putih Ibu

Sepulang sekolah, setelah mencuci muka, kaki, dan tangan, serta berganti baju Nina pergi ke ruang kerja ibunya. Dia senang sekali memerhatikan ibunya bekerja. Ibu Nina adalah seorang penjahit. Setiap hari dia bekerja dengan mesin jahitnya membuat pakaian atau membetulkan pakaian yang rusak.
Nina ingin seperti ibunya, bisa menjahit dan membuat pakaian menggunakan mesin jahit. Tapi, ibunya tidak mengizinkannya menggunakan mesin jahit karena berbahaya jika anak-anak yang menggunakannya. Nina merengek pada ibunya untuk minta diajari. Tapi, ibu Nina tetap tidak mau mengajari Nina.
Beberapa hari kemudian, ketika Nina pulang sekolah dan melihat ke ruang kerja ibunya, Nina tidak menemukan ibunya di sana. Sepertinya ibu Nina sedang pergi dan Nina kini hanya sendirian di rumah. Nina pun menunggu ibunya sambil duduk di kursi depan mesin jahit. Tiba-tiba, Nina mendapat ide untuk belajar menggunakan mesin jahit sendirian saja.

Kamis, 23 Mei 2013

Ketemu Berhala


Saya sedang suka nonton konser. Beberapa waktu yang lalu, tepatnya bulan April, salah satu penyayi favorit saya, Maliq & D’essentials manggung di GOR UNY.  Satu bulan sebelumnya, saya pun langsung mencari calo, eh bagian tiketnya supaya bisa dipastikan kalau saya bisa nonton.

Kemudian, beberapa hari berikutnya kawan saya, Sofwan bilang kalau Mocca, penyanyi favorit saya lainnya juga akan konser bulan Mei. Tanpa perlu berpikir kalau kantong saya lagi meronta-ronta saya langsung bilang ke Sofwan kalau saya nitip tiket. Dan, yes! Saya dapat!

Selasa, 14 Mei 2013

Daya dan Iba


Saya sedang berkendara menggunakan sepeda motor yang diberikan oleh ayah saya. Bukan perjalanan yang jauh, hanya perjalanan dari kosan saya di samirono menuju kampus saya di Fakultas Ilmu Sosial.  Mungkin belum sampai setengah perjalanan, setelah menyeberang jalan, di perempatan lapangan futsal, saya mengamati sesuatu yang bagi saya menyentuh.  Kalian pasti tahu trotoar di daerah stadion FIK hanya ada di sebelah timur. Bukan, saya bukan hendak membincang tentang trotoar tapi membincang apa yang terjadi di trotoar.
Di trotoar yang sempit itu, ada penjual beras kencur yang saya pikir nasibnya tidak masuk dalam ketegori kasihan bagi saya, dan ada penjual-penjual lain yang belum cukup menyentuh. Yang menarik bagi saya adalah kehadiran anak kecil yang mungkin usia 5 tahun ke atas. Anak kecil itu hanya mengenakan kaos singlet, bercelana biru, dan menggendong sebuah tas. Saya lupa anak laki-laki itu bersepatu atau tidak. Saya melihatnya seperti seorang murid TK namun berada tidak pada waktu dan tempat yang tepat.

Jumat, 05 April 2013

Leaflet Pertama Saya


Beberapa minggu yang lalu,  saya mnedapt tugas untuk membuat leaflet di mata kuliah Sejarah Kepariwisataan. Leaflet, berarti saya harus nglaeot. Saya bukan orang yang bisa nglaeot atau orang yang kreatif. Akhirnya, saya pun nekat nglaeot dan ini lah hasil laeotan saya yang pertama.

Halaman depan leaflet.

Kamis, 14 Maret 2013

Ada yang Menunggu di Rumah, Lho!


Teh hangat, leker coklat, nasi putih, dan ikan gurameh kuah kuning semuanya pasti dihidangkan oleh Ibu waktu saya tiba di rumah selepas perjalanan 2 jam dari Jogja dengan kendaraan bermotor. Bukan hanya makanan, teriakan dan pelukan adik-adik saya yang masih SD pun membuat saya sangat menikmati momen ini. Pulang kampung, kembali ke rumah. Saya pernah berpikir, selepas SMA saya tidak akan pernah lagi benar-benar tinggal di rumah. Rumah hanya akan menjadi tempat singgah dan hiburan di tengah kesibukan kuliah.

Selasa, 25 Desember 2012

Kamu Senang, Saya Nimbrung


Saya lahir di Jakarta, lalu sebelum masuk TK saya pernah tinggal di Bangka Belitung. Saya tidak pernah ingat bagaimana saya, ayah, dan ibu berangkat ke Bangka Belitung. Saya cuman ingat beberapa hal  ketika saya tinggal di sana dan perjalanan ketika saya kembali ke Jakarta.

Bangka Belitung itu tempat yang orang-orangnya beragam. Mungkin karena terletak di jalur perdagangan masa Nusantara. Ada orang Arab, Cina, Melayu, dan Jawa. Di tempat tinggal saya dulu, di Sungai Liat saya punya ibu kontrakan yang saya panggil Mbok De Pon. Dia itu perempuan paruh baya berbadan gemuk, berkulit agak gelap dan rambutnya suka diikat konde. Dalam ingatan saya Mbok De Pon suka pakai rok di bawah lutut, dan pakai kaos berkerah. Yah, seperti itulah pokoknya.  Mbok De Pon punya cucu perempuan, waktu itu masih kelas 6 SD, namanya  Kak Rita. Terus, saya punya guru ngaji orang Arab asli namanya Bu Luli. Suami Bu Luli dekat dengan ayah karena suaminya jualan karpet dan ayah saya suka beli karpet. Dulu kata ibu, Bu Luli suka jengkel karena saya saking bebalnya buat diajari ngaji. Disuruh menunjuk huruf malah menunjuk ke bingkai halaman turutan.

Minggu, 02 Desember 2012

Kepada EKSPRESImen

“Dengan kekuatan Persma, EKSPRESImen akan menghukummu!” ujar laki-laki yang mengenakan jubah hitam dengan sablonan bertuliskan “EKSPRESI, Refleksi Pemikiran Intelektual.”

Badannya gembrot tapi dia tinggi, jadi gembrotnya ketutupan. Berkacamata, tapi seringnya nggak pake. Kulit hitam legam, bahkan mengalahkan Mbak Ratih Fernandez. Saat launching majalah kemarin, dia berperan sebagai EKSPRESImen. Suka niruin gayanya salah satu pemain Srimulat dengan bilang, “Ada apa ini? Ada apa ini?” Terus kemarin karna dia, saya terinspirasi untuk bikin catatan. Jadi, siapa coba? Siapa hayo?

Jumat, 16 November 2012

Masukin Aku ke Koran Dong...


Ketika KKL (Kuliah Kerja Lapangan) pertama, saya berkunjung ke Candi Brahu. Di sana, yah seperti candi pada umumnya. Sebenarnya saya tidak ingin menceritakan tentang Candi Brahu di sini, karena terlalu membosankan. Jadi, saya ceritakan saja kejadian di Candi Brahu.

Cerita ini bermula ketika kawan saya, Umar berbicara kepada seorang bocah yang usianya kira-kira 10 tahun. Anak itu merupakan bagian dari rombongan TPQ yang saya juga tidak tahu namanya. “Dek, naik ke atas sana! Liatin, di atas ada cekungan nggak,” kata Umar dengan bahasa Indonesianya yang bercampur dengan logat ngapaknya dari Purwokerto. Sebagai mahasiswa yang baik dan budiman, serta patuh pada aturan yang ada, ketika mengatahui hai itu saya pun mencegah anak itu naik ke atas candi karena memang ada larangan untuk naik. Berhubung pesona saya yang memang memancar ke mana-mana, ketika saya mengingatkan anak-anak itu pun kawan saya yang lain ikut-ikutan mengingatkan mereka tidak untuk naik ke atas candi.

Jumat, 09 November 2012

Kenangan SD yang Belum Terlupakan


 Ini cerita 12 tahun yang lalu. Waktu itu umur saya masih enam tahun dan saya duduk di kelas 1 SDN 01 Pagi Cengkareng. Saya  lupa waktu itu bulan apa. Mungkin, karena saya belum benar-benar mengrti apa fungsi penanggalan. Yang jelas, siang itu di sekolah panas sekali. Di siang yang panas itu, saya duduk sendiri di kursi teras kelas sambil makan roti sarang burung (sekarang sari roti) rasa srikaya. Dengan tampang tanpa dosa seperti di foto profil FB saya, saya menunggu jemputan dari ayah saya, sang pengendara vespa.

Jemputan tak kunjung datang, saya cuma makan roti sambil melototin anak-anak kelas 6 yang sedang antre fotokopi di koperasi sekolah di seberang lapangan. Bel tanda usai istirahat berbunyi, sekarang sekolah terasa sepi. Di tengah suasana sepi dan rasa bosan yang melanda saya itulah, hal yang saya nggak pernah lupa sampai saya sudah gede dan jadi kurang ajar begini.

Tiba-tiba saya mendengar suara tangisan. Eit! Ini bukan cerita hantu kok. Suara tangisan itu dari anak laki-laki berbadan gemuk. Dia nangis sambil megangin celana merahnya di depan kamar mandi sekolah diiringi rengekan, “Mama, nggak bisa cebok, hu… hu… hu…”

Selasa, 09 Oktober 2012

Baik Patah Hati maupun Taruhan, Keduanya Membutuhkan Sabar


Selasa malam di EKSPRESI sedang ramai. Di ruang baca sedang ada presentasi tema buku, di ruang tengah ada beberapa gelintir manusia yang sedang ngotak-atik komputer inventaris, dan di ruang tamu, ada saya, Anggun, Nia, Awal, Sofwan, Oktandi, Mbak Sari, dan Mbak Inas serta (mungkin) beberapa orang lagi yang tidak bisa saya sebutkan  sedang menertawakan nasib Ebma yang memiliki status baru, JOMBLO. Ha ha. Memang begitu nasib anak-anak EKSPRESI yang punya status baru. Dihina. Kemarin, Mas Pendi sempat diledek dengan lagu Jatinangor karna habis putus. Dan, sekarang giliran Ebma, puk puk puk ya Eb.  Tapi tenang Eb, ada hinaan abadi, Mas Jaka, ha ha (pis masnya :P)
Mbak Inas yang sebelumnya hampir mati gila karna mengerjakan proyek majalah seperti mendapat hiburan gratis dengan meng’ece’ Ebma habis-habisan. Ebma si bahan hinaan pun cuma bisa pasrah menerima nasib buruk. Akhirnya, setelah Mbak Inas pergi, dia meminjam laptop Awal untuk memutar lagu. Lagu patah hati yang dinyanyikan oleh padi, entah apa judulnya. Saya lupa, bodoh. Dengan masih mengenakan jaket salah model yang dibelikan (mungkin sudah) mantannya, Ebma menghayati lagu sambil menerima saran dari kawan-kawannya missal, “Dengerin lagu Setangah Hati aja, sini tak cariin (intinya tadi dia bilang begini, nggak tahu persisnya),” kata Awal, sok baik. Ada juga saran seperti ini, “Sini Eb, jaketnya buat aku aja,” kata Mbak Inas gembul (ups). *itu mah Mba Inas aja yang ngincar jaketnya. Sabar Eb, sebenarnya kita peduli kok, walalupun cara menunjukkan rasa pedulinya hasyu sekali.

Senin, 08 Oktober 2012

Tas Belanja Ramah LIngkungan


Semalam, saya pergi ke Mirota Kampus untuk membeli shampo dan yang lainnya. Setelah mencomot teh, kopi, dan mie  di deretan rak bahan makanan, saya langsung meluncur ke kasir. Untungnya, antrean di meja kasir sedang sepi karena saat itu magrib. Ibu-ibu di depan dengan keranjang penuh membeli banyak sekali mie instan. Setelah mbak kasir itu selesai dengan pembeli sebelumnya, kemudian, akhirnya ibu-ibu di depan saya itu dilayani si mbak kasir. Si mbak kasir mengambil tas kecil yang  mungkin bisa dibilang kaya dompet di keranjang belanjaan ibu-ibu itu, dan seenak jidat membukanya. Saya pikir itu dompet ibunya, tapi ibu itu juga santai aja tuh. Ternyata, itu tas belanjaan, setelah mencari di Google dengan memasukkan kalimat seperti judul tulisan yang tengah anda baca ini, saya menemukan tas serupa, seperti ini.


Inilah tas belanja yang ramah lingkungan

Kemas Media


Sabtu-Minggu lalu, saya pergi ke Pantai Parangkusumo untuk Kemas Media. Tahun lalu, saya pergi sebagai peserta, tapi kali ini saya pergi sebagai panitia. Tapi, kawan-kawan panita sendiri yang dating Cuma beberapa gelintir saja. Tapi semua tetap berjalan dengan lancer kok.
Di Kemas Media, saya lihat kawan-kawan anggota baru berusaha membuat bulletin mereka dalam satu hari. Melihat mereka lembur, saya jadi teringat ketika ospek. Kawan-kawan lembur dan hanya tidur beberapa jam untuk mengerjakan bulletin EXPEDISI edisi khusus Ospek. Tapi, saya tentu tidak harus lembur seperti mereka. Ketika pekerjaan saya saya sebagai sie konsumsi selesai maka saya akan tidur.
Pginya, semua bulletin jadi dan dicetak. Syukurlah semua terbit tepat waktu. Dulu, ketika saya jadi peserta Kemas Media, kelompok sayalah yang  selesai pertama. Dan ketika itu hal yang paling ditakutkan adalah evaluasi bulletin. Tentunya karna masih sangat baru dlam menulis berita kami memiliki banyak kesalahan dalam menulis berita. Evaluasi saat itu begitu mengerikan.  Tapi, kali ini saya yang diberi kesempatan untuk mengevaluasi bulletin mereka. Saya kenal dengan salah satu anggota kelompok itu, Risfat, teman saya satu prodi. Maaf ya, kalau cara menyampaikan evaluasi terkesan galak, tapi itu terjadi begitu saja dan memang bulletin kalian memiliki banyak kesalahan. Selamat belajar, selamat datang. Ingat, ini masih tahap awal kawan-kawan anggota baru.

Sabtu, 06 Oktober 2012

Tulis Saja


Saya mencoba untuk memaksakan diri menulis. Menulis, apapun itu. Tulis saja, yang penting nulis. Entah mau jadi sampah atau… apalah. Jurusan saya, Ilmu Sejarah dan cita-cita saya sebgai jurnalis membuat saya mengharuskan diri untuk berlatih mulis. Walaupun yang ditulis ya… seperti yang anda baca sekarang ini.

Kamis, 04 Oktober 2012

Panas Dingin


Mentari menyapa
Tapi ku tak berkata
Hujan menetes
Dan semuanya tak beres

Menebal pigmenku
Karna dibakar oleh sang raja api dikala dia tertawa,
Dan kuyup diriku
Ketika si kinton meludah sembarangan

Inilah aku sang perantau
Yang menghemat lembar pahlawan
Untuk dilepas,
Keluar dari selip pakaian

Teringat akan bangunan putih
Dengan sepasang manusia di dalamnya
Yang mengajariku untuk tertawa
Tertawa akan anehnya dunia
Dengan apapun perbedaan di dalamnya
Perbedaan yang berwarna
Seperti warna di planet ketiga

Terima kasih
Sejoli yang menjadi pengajarku

(bola berkawah tertawa melihat pelajar malas berjuang)

Demi Kerupuk Kulit



Hiruk pikuk yang nyaring di kota ini,
Tepat di depan kandang kereta aku berdiri

Menunggu delivery dari sang penjagaku
Penjaga lain sudah datang dan menunggu

Kuda besi dan benda kotak bermesin
Sudah tak sabar ingin mengeksekusi
Dan kemudian kembali ke sarangnya