Jumat, 09 November 2012

Kenangan SD yang Belum Terlupakan


 Ini cerita 12 tahun yang lalu. Waktu itu umur saya masih enam tahun dan saya duduk di kelas 1 SDN 01 Pagi Cengkareng. Saya  lupa waktu itu bulan apa. Mungkin, karena saya belum benar-benar mengrti apa fungsi penanggalan. Yang jelas, siang itu di sekolah panas sekali. Di siang yang panas itu, saya duduk sendiri di kursi teras kelas sambil makan roti sarang burung (sekarang sari roti) rasa srikaya. Dengan tampang tanpa dosa seperti di foto profil FB saya, saya menunggu jemputan dari ayah saya, sang pengendara vespa.

Jemputan tak kunjung datang, saya cuma makan roti sambil melototin anak-anak kelas 6 yang sedang antre fotokopi di koperasi sekolah di seberang lapangan. Bel tanda usai istirahat berbunyi, sekarang sekolah terasa sepi. Di tengah suasana sepi dan rasa bosan yang melanda saya itulah, hal yang saya nggak pernah lupa sampai saya sudah gede dan jadi kurang ajar begini.

Tiba-tiba saya mendengar suara tangisan. Eit! Ini bukan cerita hantu kok. Suara tangisan itu dari anak laki-laki berbadan gemuk. Dia nangis sambil megangin celana merahnya di depan kamar mandi sekolah diiringi rengekan, “Mama, nggak bisa cebok, hu… hu… hu…”

Selasa, 09 Oktober 2012

Baik Patah Hati maupun Taruhan, Keduanya Membutuhkan Sabar


Selasa malam di EKSPRESI sedang ramai. Di ruang baca sedang ada presentasi tema buku, di ruang tengah ada beberapa gelintir manusia yang sedang ngotak-atik komputer inventaris, dan di ruang tamu, ada saya, Anggun, Nia, Awal, Sofwan, Oktandi, Mbak Sari, dan Mbak Inas serta (mungkin) beberapa orang lagi yang tidak bisa saya sebutkan  sedang menertawakan nasib Ebma yang memiliki status baru, JOMBLO. Ha ha. Memang begitu nasib anak-anak EKSPRESI yang punya status baru. Dihina. Kemarin, Mas Pendi sempat diledek dengan lagu Jatinangor karna habis putus. Dan, sekarang giliran Ebma, puk puk puk ya Eb.  Tapi tenang Eb, ada hinaan abadi, Mas Jaka, ha ha (pis masnya :P)
Mbak Inas yang sebelumnya hampir mati gila karna mengerjakan proyek majalah seperti mendapat hiburan gratis dengan meng’ece’ Ebma habis-habisan. Ebma si bahan hinaan pun cuma bisa pasrah menerima nasib buruk. Akhirnya, setelah Mbak Inas pergi, dia meminjam laptop Awal untuk memutar lagu. Lagu patah hati yang dinyanyikan oleh padi, entah apa judulnya. Saya lupa, bodoh. Dengan masih mengenakan jaket salah model yang dibelikan (mungkin sudah) mantannya, Ebma menghayati lagu sambil menerima saran dari kawan-kawannya missal, “Dengerin lagu Setangah Hati aja, sini tak cariin (intinya tadi dia bilang begini, nggak tahu persisnya),” kata Awal, sok baik. Ada juga saran seperti ini, “Sini Eb, jaketnya buat aku aja,” kata Mbak Inas gembul (ups). *itu mah Mba Inas aja yang ngincar jaketnya. Sabar Eb, sebenarnya kita peduli kok, walalupun cara menunjukkan rasa pedulinya hasyu sekali.

Senin, 08 Oktober 2012

Tas Belanja Ramah LIngkungan


Semalam, saya pergi ke Mirota Kampus untuk membeli shampo dan yang lainnya. Setelah mencomot teh, kopi, dan mie  di deretan rak bahan makanan, saya langsung meluncur ke kasir. Untungnya, antrean di meja kasir sedang sepi karena saat itu magrib. Ibu-ibu di depan dengan keranjang penuh membeli banyak sekali mie instan. Setelah mbak kasir itu selesai dengan pembeli sebelumnya, kemudian, akhirnya ibu-ibu di depan saya itu dilayani si mbak kasir. Si mbak kasir mengambil tas kecil yang  mungkin bisa dibilang kaya dompet di keranjang belanjaan ibu-ibu itu, dan seenak jidat membukanya. Saya pikir itu dompet ibunya, tapi ibu itu juga santai aja tuh. Ternyata, itu tas belanjaan, setelah mencari di Google dengan memasukkan kalimat seperti judul tulisan yang tengah anda baca ini, saya menemukan tas serupa, seperti ini.


Inilah tas belanja yang ramah lingkungan

Kemas Media


Sabtu-Minggu lalu, saya pergi ke Pantai Parangkusumo untuk Kemas Media. Tahun lalu, saya pergi sebagai peserta, tapi kali ini saya pergi sebagai panitia. Tapi, kawan-kawan panita sendiri yang dating Cuma beberapa gelintir saja. Tapi semua tetap berjalan dengan lancer kok.
Di Kemas Media, saya lihat kawan-kawan anggota baru berusaha membuat bulletin mereka dalam satu hari. Melihat mereka lembur, saya jadi teringat ketika ospek. Kawan-kawan lembur dan hanya tidur beberapa jam untuk mengerjakan bulletin EXPEDISI edisi khusus Ospek. Tapi, saya tentu tidak harus lembur seperti mereka. Ketika pekerjaan saya saya sebagai sie konsumsi selesai maka saya akan tidur.
Pginya, semua bulletin jadi dan dicetak. Syukurlah semua terbit tepat waktu. Dulu, ketika saya jadi peserta Kemas Media, kelompok sayalah yang  selesai pertama. Dan ketika itu hal yang paling ditakutkan adalah evaluasi bulletin. Tentunya karna masih sangat baru dlam menulis berita kami memiliki banyak kesalahan dalam menulis berita. Evaluasi saat itu begitu mengerikan.  Tapi, kali ini saya yang diberi kesempatan untuk mengevaluasi bulletin mereka. Saya kenal dengan salah satu anggota kelompok itu, Risfat, teman saya satu prodi. Maaf ya, kalau cara menyampaikan evaluasi terkesan galak, tapi itu terjadi begitu saja dan memang bulletin kalian memiliki banyak kesalahan. Selamat belajar, selamat datang. Ingat, ini masih tahap awal kawan-kawan anggota baru.